Wicca 

​Budaya, sejarah, jenis kelamin, keluarga, politik, dan semua batas-batas pengetahuan konvensional membentuk jiwa kita, kehidupan kita, dari masa kanak-kanak. 

Kutipan Dari: “Wicca: A Year and A Day : 366 Days of Spiritual Practice in the Craft of the Wise” oleh Timothy Roderick.


Istilah Wicca bagi masyarakat Indonesia mungkin masih terdengar asing dan tidak umum. Padahal Wicca sudah menjadi bagian dari diri kita sejak kita semua dilahirkan. Wicca bukanlah sebuah agama, melainkan lebih kepada hubungan manusia dengan alam semesta. Bahwa manusia adalah bagian dari kosmos. Setiap tingkah laku manusia memengaruhi keadaan kosmos alam semesta yang lebih besar, yang tentunya berimbas juga kedalam kehidupannya sehari-hari. Menjadi seorang Wicca tidak harus melalui pembaitan dari seorang Master Wicca. We are all the master of our own life.. 
Dari pengalaman pribadi, kesehatan adalah salah satu hal yang paling utama. Kesehatan yang didapatkan langsung dari alam. Berkat alam. Bukan kesehatan instan dari iklan obat-obatan. Tubuh fisik manusia terbatas. Bagaimana bisa mendapatkan kesehatan dari racun pabrik. Racun kimia merusak sistem metabolisme tubuh dari sejak kita kecil. Paparan polusi udara dari kendaraan, pola makan yang tidak organik akibat maraknya makanan siap saji, radiasi gelombang listrik dari televisi dan radio, rumah yang dibangun diatas tanah yang diratakan, dll. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Cukup tahu saja dan mulai berdayakan diri untuk melindungi kita dari bahaya modernisasi. Jika terasa sangat sulit, mulailah dengan mengurangi kebiasaan buruk. 

Meditasi juga praktik terpenting dalam Wicca. Sama seperti ajaran spiritual yang lain, meditasi dibutuhkan agar kita tetap fokus. Tidak mengawang-awang, tetap membumi dan sadar sesadar-sadarnya. Ya, sesadar-sadarnya. Bukan ilusi, bukan khayalan, bukan fantasi ala film. Saya pengalaman kaki lumpuh, kemudian sembuh dan bisa jalan kaki lagi, apalah itu sebuah fantasi? Khayalan? Ilusi? Tidak. Apa yang saya alami itu nyata adanya. Sebuah bukti. Keteguhan dan disiplin memberdaya diri adalah kuncinya. Memberdaya diri dalam hal apa? Dalam mendekatkan diri dengan alam dan sadar bahwa tubuh fisik saya selama ini sakit, butuh diperhatikan. Saya kurang peka bahwa tubuh ini meronta sakit akibat kesalahan saya sendiri. Selama proses dari kelumpuhan sampai bisa jalan lagi, saya tidak tahu apa itu Wicca. Saya tidak melekatkan diri dengan sesuatu ajaran spiritual khusus saat itu. Saya hanya bersyukur bisa bangun pagi dan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan setiap harinya. Sedikit banyak saya juga belajar meditasi dari almarhumah ibu. Sangat membantu sekali. 

Saya mulai terkoneksi dengan dunia Wicca sekitar 6 bulan sesudah sembuh, 2013, di masa-masa kehamilan Willem. Tapi, saya tidak melakukan ritual membakar lilin atau meletakkan sebuah pisau athame di kamar. Melainkan mengubah pola makan, minum, mengeliminasi kebiasaan merokok, dan perbanyak gerak. Apa hubungannya dengan Wicca? Keseimbangan, kebiasaan, yang terhubung dengan alam. Apa yang saya lakukan kembali kepada diri saya berkali-kali lipat. Saya hanya makan sayur dan buah, hasilnya lebih sehat. Saya tidak merokok, hasilnya lebih sehat. Kualitas hidup saya semakin membaik. Dan kesemua itu bisa saya dapatkan tanpa menggunakan mantra apapun. Itulah Wicca yang sesungguhnya. Hasil didapatkan dari sikap dan tindakan sendiri. Ibu Bumi menyayangi kita semua. Sudahkah kita sayang kepada Ibu Bumi? Menyayangi Ibu Bumi dimulai dari menyayangi diri sendiri. Kesadaran diri. Juga kesadaran mental dan spiritual. Kesadaran fisik dan psikologis. Kesadaran holistik… Kesadaran menyeluruh…

Semoga semua makhluk berbahagia,

TAROT HARIAN : 28 JANUARI 2017

Tarot Harian 28 Januari 2017

Update Tarot Harian untuk pagi ini : Four of Wands, The Fool, The Hanged Man. Representasi kartu kalau saya pribadi hubungannya dengan anak-anak saya. Kenyamanan di rumah sebaiknya dijaga dan dirayakan dengan kegembiraan bersama. Disyukuri terutama jika kejadian-kejadian yang sering mengundang stress justru malah menciptakan kesadaran baru. Kesadaran-kesadaran baru berbuah pencerahan dan perspektif lebih luas lagi meski diluar dugaan, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan sebab selama ini dirasa berbanding terbalik dengan perspektif lama yang lebih relevan. 

Sebaliknya, kalau tidak menjaga dan mensyukuri keadaan akan timbul masalah baru yang beresiko menghambat pengembangan diri dan spiritual. Bukannya membawa kebaikan, melainkan malah mengubah diri jadi terlihat aneh, melakukan hal-hal yang sulit diterima akal sehat, ekstrim, merusak citra baik selama ini. Orang-orang bukannya mengerti dan mendukung maksud kita, justru kita malah akan dijauhi karena terlalu larut dalam sesuatu yang absurd, menutup diri dari menerima pandangan-pandangan oranglain yang mungkin saja lebih berguna. 

Love and Light,

TAROT HARIAN : 27 JANUARI 2017

Tarot Harian 27 Januari 2017

Hello everyone,

Berhubung situs resmi saya (mirantieboreel.com) sedang suspended, Tarot Harian dialihkan sementara ke blog lama di WordPress. 

Hari ini keluar kartu  Three of Swords, Justice, dan The World
Representasi kartu dalam perspektif saya pribadi memang ada hubungannya dengan luka masa lalu. Penderitaan dari masa lalu tak melulu mendatangkan keburukan. Dari luka masa lalu itu saya mampu merubahnya menjadi sebuah kekuatan untuk tetap tegar dam mandiri. Pengkhianatan seseorang atau kelompok akan berbalik kepada mereka sendiri. Justru dari sebuah pengkhianatan, saya belajar untuk menjadi pribadi yang tangguh yang tak tergantung kepada seseorang maupun kelompok.Dan tentunya lebih berhati-hati lagi dalam memercayai seseorang maupun kelompok tertentu. Lebih mantap dalam menentukan langkah-langkah kedepan. 

Jangan lupa bahwa seni meramal menggunakan kartu Tarot juga berlaku kebalikannya. Yaitu, belajar dari kesalahan masa lalu bisa saja malah dinampakkan kesalahan-kesalahan yang datang dari diri sendiri. Mungkin karena khilaf atau juga kurang mempertimbangkan secara objektif dalam sikap dan tindakan, yang malah mengundang stigma negatif dari seseorang maupun kelompok. Niat baik bisa berujung pada salah paham karena terlalu mementingkan diri sendiri dibandingkan kepentingan bersama. 

Love and Light,

Museum Geologi Bandung

Hari Sabtu, tanggal 8 Agustus 2015, saya & si bontot Willem mengunjungi Museum Geologi Bandung. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 10:00 WIB. Naik kendaraan umum (baca : angkot) jurusan Cicaheum – Ledeng. Lokasi museum lumayan dekat dari daerah tempat tinggal kami di Cicadas. Hanya satu kali saja naik angkot dengan durasi perjalanan sekitar 8-10 menit langsung sampai di lokasi. Biaya ongkos pun terbilang murah, Rp. 3.000,-.

Turun dari angkot di jalan Diponegoro tampaklah museum itu tepat di seberang sana. Saat itu ada beberapa bis pariwisata dari sebuah sekolah yang nampaknya juga sedang berwisata ke Museum Geologi Bandung.

Saya segera menyebrang sambil gendong Willem. Berhubung ini kali pertama berkunjung, saya kebingungan dimana gerbang masuknya. Syukurlah banyak sekali pedagang disana. Saya bertanya ke salah satu pedagang minuman dingin bertampang necis dengan sedikit tato di lengannya : ‘Punten, pak. Kalo mau masuk ke museum lewat mana ya?’, tanya saya dengan merasa sedikit bodoh. ‘Disitu, neng (sambil nunjuk ke gerbang paling ujung), masuk di gerbang yang terbuka paling pertama di ujung.’ Saya perhatikan dengan teliti ternyata memang ada beberapa kendaraan mobil & motor masuk melalui gerbang itu, juga beberapa remaja.

‘Iya, pak. Nuhun,’ jawab saya sambil senyum ramah kepada pedagang bertato yang ternyata juga ramah dan baik. Kemudian, saya bergegas menuju arah pintu gerbang pertama. Masuk gerbang dihadapkan dengan seorang satpam. Tetapi, nampaknya satpam itu cuek bebek saja. Ya sudah, saya masuk saja.

Willem terlihat riang dan tak mau digendong. Sibuk lari-lari di lapangan parkir museum yang luas. Beberapa turis asing ada yang menghampiri Willem dan mengajaknya main. Ketika saya berseru kepada anak saya, ‘Willem, pelan-pelan larinya nanti jatuh,’ salah satu turis perempuan agak bengong, ‘Willem? Belanda?,’ Wah rupanya turis itu hendak menebak apakah Willem dari Belanda atau bukan, karena ketika saya menyebut nama Willem logat londo saya terdengar jelas. Hahaha.

‘Ja. His name is taken from my ancestor’s name, Willem Boreel.’ Jawab saya mantap.

‘Boreel! Ja. Saya juga dari Belanda. Saya tahu Boreel.’ Kata si turis perempuan berambut pendek pirang sambil angguk-angguk kepala khas orang Belanda. Ternyata dia lancar berbahasa Indonesia. Dia datang mengunjungi museum bersama keluarganya dan menceritakan bahwa kakeknya juga adalah seorang peneliti Belanda yang mengadakan riset di museum ini. Dia & keluarganya sangat antusias sekali ketika menceritakan kenangan bersama kakek mereka itu yang saya lupa namanya. Maklum, gangguan pendengaran saya semakin parah dan alat bantu yang saya pakai saat itu sedang lemah batreainya hampir habis. Beruntung saya terbiasa baca gerak bibir meski tidak terlalu bisa..

Kami pun berpisah di tempat pembelian tiket masuk. Seorang perempuan paruh baya berjilbab menyambut dengan senyum, ‘Untuk berapa orang?’, katanya.

‘Kalau bayi masuk hitungan gak?’, tanya saya sambil menunjuk Willem yang sedang sibuk menyentuh patung kera kecil di dekat pintu ruang pembelian tiket.

‘Engga, Bu. Gak masuk hitungan. Harga tiket Rp. 3.000,-‘ Jawabnya.

Wah, murah juga ya….. Pikir saya. Langsung saja saya rogoh kocek dari dompet di tas dan ambil tiket masuk.

Setelah sampai di gerbang pintu masuk museum, dua orang petugas jaga perempuan juga menyambut kami berdua dengan sopan dan ramah. Tiket milik saya ditandai. Kami pun masuk ke dalam museum.

image

Kesan pertama masuk museum, saya takjub melihat kerangka fosil Mammoth purba yang diletakkan tepat di tengah ruangan pintu masuk. Besar sekali!

image

Willem tak seperti biasanya, yang rewel tak mau diam, terbengong-bengong sendiri. Dia diam saja, tapi terlihat dari ekspresi mukanya dia juga sama-sama takjub. Apalagi di sebelah kerangka fosil mammoth purba itu ada sebuah layar besar yang menampilkan tayangan dokumentari sejarah binatang purbakala. Alhasil, Willem makin betah.

Kami berdua telusuri ruang museum satu persatu. Pertama, kami masuk ruangan museum ‘Sejarah Kehidupan (History of Life)’. Kami dihadapkan dengan cerita-cerita manusia purba & penemuan fosillnya, dinosaurus & binatang purbakala lainnya, serta yang paling menarik minat saya mengunjungi museum ini, Evolusi Manusia.

image

image

image

Hampir satu jam lamanya saya & Willem di ruangan ini. Saya luar biasa betah memerhatikan benda-benda purbakala. Tidak ada bosannya bolak-balik di satu ruangan demi membaca sejarah peradaban dunia dengan seksama. Sensasinya jauh berbeda dengan momen ‘hanya-tau-dari-google’. Berada di antara benda-benda purbakala yang umurnya jutaan tahun ini benar-benar bikin saya lupa waktu.

Akhirnya mau tak mau saya masih harus melihat-lihat ke ruangan lain. Sampailah saya & Willem di ruangan Geologi Indonesia. Di ruangan ini terdapat hipotesis terjadinya bumi & alam semesta. Juga penjelasan tentang Evolusi Manusia menurut Charles Darwin, sang pelopor Teori Evolusi. Juga terdapat penjelasan keadaan geologi Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya.

image

image

image

image

image

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 13:00. Perut saya pun keroncongan tanda lapar karena belum makan. Willem juga harus segera makan siang. Akhirnya, saya inisiatif untuk pulang saja. Lagipula di hari Sabtu museum ini buka sampai jam 2 siang. Padahal kami belum sempat mengunjungi ruangan museum di lantai atas. Tak apalah. Lain waktu lagi saja.

Kami pun pulang naik angkot. Selama perjalanan pulang hingga saat ini juga saya masih takjub dan ingin segera mengunjunginya lagi. Sangat berkesan dan luar biasa sekali…

image

Mengulang Kemampuan Membaca Partitur Piano

Hello everyone!

Setelah berbulan-bulan lamanya saya tidak membuat blog disini rasanya jadi agak bingung dan serba salah karena malah sibuk memakai blog platform lain yang ternyata servisnya tidak sebagus WordPress.

Sudah hampir seminggu ini saya kembali bergairah baca partitur piano dibantu oleh buku “Piano Scale & Arpeggios Grade 4 ABRSM”.

image
Buku Piano Scale & Arpeggios Grade 4 ABRSM milik saya

Jujur saja awalnya saya merasa asing bertemu deretan notasi balok disebabkan kegemaran membaca partirur sudah lama terlupakan. Beruntung di smartphone saya ada beberapa aplikasi belajar notasi. Saya instal Note Trainer Lite (versi gratis) & Sight Reading Improver. Dalam waktu 3 hari saja saya sudah menguasai treble & bass clef. Kemudian, hari berikutnya saya mulai lagi dari awal halaman buku ABRSM, juga mengunduh beberapa piecesnya Beethoven, Chopin, Mozart dan Vivaldi.
Oh ya, saya sempat juga upload piano sheet Moonlight Sonata – Beethoven di akun Dropbox saya disini (Format PDF).

image
Screenshot Moonlight Sonata’s Sheet

Ada kekecewaan saat saya mencari piano sheetnya Enya. Susah sekali mendapatkan link downloadnya yang gratisan. Saya diharuskan untuk membelinya. Belum rejeki nih.. Rencana nabung minggu ini pun bukanlah untuk beli buku notasi Enya, melainkan buku terbitan ABRSM lagi dengan tema sight reading.

image
Specimen Sight Reading Test ABRSM Grade 1

Entah kenapa saya selalu tertarik dengan dunia piano dan partitur. Minat terhadap musik klasik & relaxing tak pernah lekang oleh waktu meski bertahun-tahun saya selalu urung belajar piano atau baca partitur. Mungkin memang disinilah dunia saya. Saya tidak pernah merasa tertekan setiap kali bermain piano atau pada saat baca partitur. Saya merasa lengkap. Jauh berbeda dengan bermain instrumen alat musik selain piano yang pembawaannya sering membuat saya malah jadi stress dan cenderung depresi berlebihan. Saya rasa stress itu disebabkan oleh ‘salah jalur’. Bertahun-tahun saya hidup keluar dari alurnya. Buat apa main musik kalo gak ada passion sama sekali. Kemampuan tanpa kenikmatan tak lebih merupakan pamer yang hampa.

Awal Kecintaanku Dengan Piano

Bukanlah musik klasik yang jadi pendorongku bermain piano. Pertama kali aku suka suara dentingan piano adalah dari lagu Watermarkalbum “Enya- Watermark” yang merupakan kaset pribadi milik ibuku. Saat itu aku berusia 5 tahun.

image

Hampir setiap hari kusetel kaset itu dengan harapan aku bisa belajar main piano. Tetapi keluargaku tidak mampu membelikanku piano. Ketika itu rasanya bermain piano dan menjadi pianis hanya sebatas impian semu saja. Absurditas imajinasi seorang anak kecil belaka.
Selanjutnya memasuki Sekolah Dasar kelas 4 aku berkenalan dengan musik Yanni. Aku dibelikan kaset Yanni “In My Time” (1993) oleh ibuku.

image

Sensasi celtic dari Enya diperkaya dengan pengaruh musik world-nya Yanni. Kedua genre itu sangat memengaruhi gaya pianoku dalam membuat karya. Saat ayah membelikanku keyboard, aku mulai coba mencipta lagu sendiri. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk main keyboard di kamar. Sayangnya aku gak diajari cara fingering yang baik dan benar. Aku memainkan tuts-tuts piano tanpa memerdulikan penempatan jari di tuts yang benar. Padahal ada tehniknya. Aku belum mengetahuinya kala itu. Dan gaya ngasal itu juga yang bikin tehnik bermainku terbatas pada pola yang gitu-gitu saja. Sulit berkembang.
Memasuki masa SMP aku mulai kenal dengan musik klasik. Ada banyak sekali CD dari Belanda dikoleksi ibuku. Deretan komposer klasik seperti Beethoven, Tchaikovsky, Mozart, Chopin, Vivaldi, Bach, dll sukses mendapatkan perhatianku. Aku mendengarkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda dari warna Enya & Yanni. Musik klasik terkesan memiliki pola yang rumit, baku, sangat tak terduga, sulit ditebak. Namun diluar semua itu aku menyimpan rasa penasaran yang tinggi.

image
Ludwig van Beethoven
image
Frédéric François Chopin

Pengetahuanku tentang musik klasik belumlah luas. Aku hanya tahu sebatas musiknya saja. Belum bisa memainkannya.
Masa-masa kuliahku di salah satu sekolah tinggi musik di Bandung memberi banyak manfaat dalam hal pembacaan not balok (partitur) yang dimana aku memang masih awam dengan not balok. Kuliah tak selesai, aku tetap belajar partitur secara otodidak. Ditambah sekarang udah jaman internet, dengan mudah aku temukan banyak buku-buku penunjang sightreading. Aku harus lebih banyak belajar dan latihan untuk mengejar nilai bagus dalam ujian ABRSM (Associated Board of Royal Schools of Music) London, United Kingdom.

image

Sambil belajar aku juga akan coba buat karya. Sederhana saja. Aku akan merekamnya secara home recording dari laptop pribadi lengkap dengan software-nya. Mungkin nanti kalau Willem udah gedean bisa diajak ke studio rekaman profesional. Tapi, aku juga belum tahu gimana proses rekaman solo piano yang bagus. Apakah jika aku ingin memasukkan suara orchestra harus pakai jasa orkestra asli, bukan komputer/MIDI? Hmm, nampaknya aku masih harus banyak cari informasi lagi.

Musik Rock, Stand-Up Comedy dan Filsafat

Rumah Filsafat

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Apa yang sama dari musik rock, Stand-Up Comedy dan filsafat? Ketiganya digemari banyak orang, mulai dari usia muda sampai tua. Bahkan, di salah satu video youtube, kita bisa menyaksikan anak balita menari-nari dengan gembira, ketika mendengar lagu Enter Sandman dari Metallica. Sewaktu di Jakarta dulu, saya pernah menyaksikan ibu-ibu yang mengenakan Jilbab melakukan head bang (menggoyangkan kepala), ketika mendengar konser Metallica.

Stand-Up Comedy berkembang pesat baru-baru ini di Indonesia. Yang pertama menyiarkan adalah Kompas TV, lalu diikuti oleh siaran televisi lainnya. Orang dari beragam usia menikmati dan bahkan ikut menjadi stand up komedian, atau komik, mulai dari anak SD sampai dengan seniman senior sekelas Sujiwo Tedjo. Di AS dan negara-negara Eropa, Stand-Up Comedy memiliki sejarah yang lumayan panjang, sejak dari abad 19.

Di sisi lain, filsafat adalah ilmu tentang segalanya. Ia adalah sebuah…

View original post 880 more words

Piano, Romanticism & ABRSM

Udah hampir sebulan aku gak pernah buka akun FB. Sibuk ngurus Willem & rumahtangga. Aku sekarang terbiasa bangun pagi very early in the morning sekitar jam setengah 5. Guess what? Jam 6 udah selesai mandi. Mulanya aku buat jadwal rutin menggunakan aplikasi GTask seperti kapan aku harus bangun, mandi, sarapan dll. Tentu sebelumnya juga harus disesuaikan dulu dengan rutinitas Willem. Alhasil, hari-hariku kini gak membosankan lagi. Ada banyak sekali hal yang bisa kulakukan dalam satu hari dan itu terasa menyenangkan. Membuat hidupku terasa lebih berarti.

Ada perubahan musikalitas juga. Aku sekarang sangat fokus main piano. Aku ingin bisa lulus ujian ABRSM, yaitu Associated Board of Royal Schools of Music di London, dan mendapat gelar Diploma sampai Master.  Minggu kemarin aku beli buku Piano Scales & Arpeggios terbitan ABRSM Publishing dari sebuah situs online book store Bandung. Isi materi bukunya berupa keseimbangan fingering kanan-kiri, major/minor scales, dan arpeggios. Sangat baik untuk latihan jari dan kemampuanku membaca not balok partitur, meskipun begitu aku tetap berencana untuk beli buku-buku tentang metode pembelajaran Sightreading baik terbitan ABRSM maupun penulis individual seperti Jane Bastien, dll.

image

Kesibukanku itu membuatku kembali bergelut dengan musik Klasik. Terutama Romanticism. Aku mengagumi jaman Romanticism bukan hanya dari segi musiknya saja, tetapi juga karya seniVisual Art, literatur (sastra) & arsitektur bangunannya. Meski memang menurutku arsitektur bangunan jaman Medieval lebih unik, seperti kastil-kastil kerajaan Eropa, aku ingin sekali punya rumah pribadi di salah satu kastil Eropa.