Seruling Bambu Sang Penggembala #2

Mencari banyak ilmu pengetahuan memang bagus. Namun, jika terlalu jauh melewati batas dapat mengakibatkan sebuah gunung yang semula tenang jadi meletus dan mengacaukan keseimbangan alam itu sendiri. Ada pepatah bijak mengatakan “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak“. (Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak). 

Manusia dianugerahi akal dan pikiran. Meski sudah diajarkan untuk tidak melanggar aturan, masih saja ada yang suka merusak demi kepentingan yang semu. Orang-orang seperti itu bagaikan buah busuk yang bersembunyi dibalik dedaunan yang layu sebelum berkembang. Tanpa pikir panjang, segala cara dilakukan agar tercapai keinginannya. Tanpa sadar mental korupsi dan primordial mencuci otaknya. Oh, demi hanjuang yang menyemburat senja dan cahaya mustika dan permata-permata yang berharga, sungguh manusia sudah banyak yang tergelincir di alam dunia, kemudian lupa Rasa Sejati. 

Seruling Bambu Sang Penggembala 

Cowherd Boy

Kala itu, semesta bergembira menyambut musim panas di istana. Setelah mengalami tragedi bencana gunung meletus, penduduk setempat bergotong royong untuk mengatur kembali tatanan kehidupan mereka. Kekacauan yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi telah merusak sebagian besar jalanan yang sebelumnya tampak elok dengan pemandangan alam yang sangat indah. Sebagian besar penduduk langit pun sebenarnya juga ikut iri dengan keasrian alam desa itu. Namun, kali ini langit tidak bisa diam saja. Langit mau tidak mau harus turut membantu. Toh, langit juga sudah pasti akan menganggur tanpa adanya Bumi. Bayangkan jika Tuhan tidak punya kerjaan lagi. Tidak akan ada manusia sudi menerima Tuhan maha miskin

Alunan seruling bambu diiringi gemericik air di sungai yang bersih dan pepohonan yang rindang merupakan surga bagi siapa saja yang senang menghabiskan waktu di alam terbuka. Tidak ada tembok istana megah yang memenjarakan. Tidak ada rasa takut dihampiri oleh tuan-tuan tanah yang serakah, atau raja-raja lalim yang senang memerkosa wanita dan anak-anak. Ah, rupanya Tuhan senang main boneka. Batu-batu permata giok yang berkilau hijau pun dijual dengan harga murah demi kenyang perut sendiri. 

Alunan seruling bambu jadi saksi di udara. Mendamaikan engkau dan aku. Keindahan dari setiap nada-nadanya membuat gunung kepala hati yang keras bagaikan batu bisa berubah menjadi lembut dan tenang seperti semilir angin yang berhembus sejuk atau air yang mengalir sampai jauh. Sungguh, manusia senang berbuat kerusakan demi sesuatu yang semu dan tidak kekal. Apa yang sebelumnya damai sejahtera dan sederhana adanya dirusak, dihancurkan, dibakar, dikotori oleh kerakusan dan keegoisan yang menciptakan parasit berantai tiada putus-putusnya. Seolah hidup sekali tidaklah cukup. Siapa yang tahu kelak akan dilahirkan kembali dimana? Belum cukupkah bambu menjadi rumah pelindung dari panasnya sengatan Matahari? 


Lima Elemen Dasar Wu Xing

Wu Xing

Dalam kepercayaan Tiongkok kuno, manusia hendaknya mengingat dan menjaga lima elemen dasar dalam hidupnya yang disebut sebagai Wu Xing. Merupakan skema dari konsep lingkaran kosmik kondisi organ-organ tubuh manusia. Sehingga Wu Xing dijadikan sumber ilmu dasar oleh praktisi obat-obatan herbal Tiongkok untuk mendiagnosa kondisi kesehatan. Tidak hanya itu. Wu Xing juga dijadikan ilmu dasar untuk Ziwei/divination dan digunakan juga untuk ramalan shio serta seni arsitektur feng shui. 

Keseimbangan Yin – Yang sangat diutamakan untuk tetap menjaga kesehatan jiwa dan raga. Pola hidup yang tidak teratur dan tidak sehat dapat merusak keseimbangannya. Begitu juga dengan pola makan. Wu xing juga menekankan pola makan sehat dan seimbang berdasarkan lima elemen dasar : kayu (wood/mù), api (fire/huô), tanah/bumi (earth/tu), zat besi (metal/jin), dan air (water/shui). 


Resensi Buku : Ekofeminisme Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya

image

Judul : Ekofeminisme : Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya
Penulis (editor) : Dewi Candraningrum
Penerbit : Jalasutra
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : xvi + 268 hlm; 15, 5 cm x 23 cm
ISBN : 978-602-8252-89-8

Seri kajian ekofeminisme ini merupakan kerjasama Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana dengan Penerbit Jalasutra.

Buku ini saya beli di toko buku online Belbuk dengan harga buku 68,400. Saya suka ilustrasi gambar cover depan bukunya yang merupakan goresan kuas dari pelukis difabel penyandang autisme berusia 13 tahun, Ivan Ufuq Isfahan. Adapun tema buku ini adalah ekofeminisme, yaitu hubungan ekologi dengan feminisme. Bermuara pada hasil seminar, workshop untuk Kajian Feminisme Lintas Iman yang diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga bersama dengan berbagai perguruan tinggi lain.

Menurut kata pembuka yang ditulis oleh Irianti Ina R. Hunga (Ketua Pusat Penelitian dan Studi Gender, Universitas Kristen Satya Wacana), buku ini juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan di bawah payung program Interfaith Gender Equality and Ecological Justice yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana (PPSG – UKSW). Kegiatan itu juga sebagai tindak lanjut dari program Moving Beyond Faith : An Interfaith Workshop for Ecological Justice yang dilaksanakan oleh Institute of Women’s Studies, St. Scholastica’s College, Manila pada 21 – 25 Februari 2011, dimana PPSG – UKSW terlibat sebagai peserta yang masuk dalam jejaring program United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA).

Isi buku sebagian besar menguak fakta empiris dari dampak perubahan iklim dan krisis lingkungan terhadap perempuan sebagai pihak yang “terlupakan”. Pada pengantar disebutkan bahwa perempuan banyak ditinggalkan dalam proses pengambilan keputusan politik untuk dapat mengakses sumber-sumber kehidupannya. Budaya patriarki telah menggeser keberadaan perempuan dalam mengelola lingkungan dan berdampak pada semua aspek kehidupan perempuan dan masyarakat pada umumnya.

Diterangkan juga tentang perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman berbeda terkait dengan alam. Demikian juga perubahan iklim memiliki implikasi yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Namun ironisnya, dalam proses pengambilan keputusan terkait perubahan iklim dan sumberdaya justru tidak melibatkan perempuan.

Terdapat IV (empat) bagian bab yang disajikan di buku ini dimana pada masing-masing bagian terdiri dari beberapa moderator :
BAGIAN I – Tafsir Lintas Iman
BAGIAN II – Seni, Sastra & Kebudayaan
BAGIAN III – Pendidikan dan Pengajaran
BAGIAN IV – Ekonomi & Pembangunan

Dewi Candraningrum selaku editor berhasil mengumpulkan bagian penting dari isu-isu ekofeminisme yang memang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari publik. Terutama dalam bagian Usaha Perempuan Mengolah Warna Alami Berbasis Limbah Kayu : Kajian Budaya Batik Ramah Lingkungan oleh Hartati Soetjipto, A. Ignatius Kristijanto & Arianti Ina Restiani Hunga. Dari kesemua isi bagian buku ini seluruhnya bagus dengan penyampaian yang lugas, sarat teori feminisme dan hubungannya dengan lingkungan, sekaligus mengaitkannya dengan paham lintas agama.