Genealogi Boreel

Sejauh yang orang tahu, nama Boreel berasal dari Italia. Banyak kisah tentang garis keturunan Boreel ini dibuat-buat oleh segelintir orang yang bukan keluarga. Sudah sejak abad ke 17, seseorang terlibat dalam pengubahan kisah silsilah keluarga Boreel tersebut. Pada usia 30an di abad ke-20, penelusuran silsilah keluarga Boreel bahkan dilewati begitu saja oleh orang itu (berdasarkan majalah bulanan  Genealogisch-Heraldisch Genootschap “De Nederlandsche Leeuw”, tahun 1929, 1930 dan 1931). 

Dalam silsilah keluarga tahun 1895, seseorang percaya bahwa nenek moyangnya adalah Berenger Borel, yang oleh Jean de Carpentier tulis dalam karyanya “Histoire de Cambray et du Cambrésis” (Sejarah Cambray dan Cambrésis) : 

“Berenger Borel surnommé le Bourguignon, puissoit son extraction d’un puisné de ce grand Berenger Borel (selon Lazius), Comte de Barcelone, d’Ourgel et de Catalogne en partie, don’t les descendants posséderèrent le Royaume d’Arragon, le Comté de Provence et autres grands Estats.” 

Artinya : Berenger Borel yang dijuluki sebagai si Burgundy, merupakan keturunan dari sang Berenger Borel yang hebat (menurut Lazius), Count of Barcelona dari Ourgel dan Catalonia, yang dimana keturunannya mewarisi Kerajaan Arragon, termasuk provinsi dan perkebunan besar lainnya. 

Tak heran jika pada tahun 1339, Berenger Borel mendeklarasikan kepada seluruh penduduk setempat bahwa marga Borel sudah ada sejak 5 abad lamanya. Kebenaran dari apa yang tertulis dalam karya Jean de Carpentier tersebut tidak diragukan. 

Meskipun ada perdebatan antara H. Van Malsen dan Dr. W. A. Beelaerts, banyak klarifikasi telah dilakukan dalam hal penulisan silsilah genealogi keluarga Boreel. Bahwa sebenarnya marga tersebut hanya bisa dimulai dari Pierre Bourell, yang dimana anaknya, Ruffyne, lahir di Ferrara. Sesuai dengan akte kelahirannya yang tersimpan di Arsip Nasional di Rijssel tertanggal 18 April 1401. 

Nama Ruffyne Bourell ini kemudian terkenal berubah-ubah nama. Dari Ruffard, Ruffarde, Rufflarde, dan akhirnya menjadi Ruffelaert. Selama 12 tahun bersama anggota keluarganya bekerja di sebuah perusahaan batu kristal Yperen sebagai pembantu keluarga pemilik perusahaan dan pengrajin batu-batu kristal. 

Setelah lama berusaha untuk menafkahi sanak saudaranya, Ruffyne berhasil memiliki dua tempat tinggal di Ghent. Yaitu, di Hoogpoort dan “De Kleine Sikkel”. Berlokasi di sudut Hoogpoort dan Biezekapellestraat, tempat tersebut sebelumnya dibangun selama berabad-abad oleh para kepala keluarga setempat yang dimana saat Ruffyne menempatinya banyak para pedagang dari berbagai wilayah Eropa sering mampir untuk sekadar bertransaksi dagang atau melihat-lihat. Terutama perdagangan kerajinan kain, alat-alat rumah tangga, dan batu-batu kristal. 

Ruffyne menikah dengan Péronne de Sénéchal. Tidak diketahui darimanakah orangtua Péronne berasal. Nama Sénéchal asli dari Normandia. Di Belgia muncul nama tersebut dalam berbagai bentuk nama yang sedikit berbeda. Pada abad 15 ada Senescalc dan Sennesael (e). Tapi, di buku telepon Brussels juga ada nama G. Sénéchal, H. Sénéchal dan P. Senechales.

Sedangkan Sénéschal di Belanda jaman dulu merupakan gelar pelayan tertua. Julukan “seneschalk” atau “hofmaarskalk” hanya diberikan kepada pelayan tertua atau tertinggi sesuai keputusan majikan di tempatnya bekerja. Terutama pada jaman Lord di Abad Pertengahan. Setelah runtuhnya kantor Hofmeier, “seneschalk” menjadi pejabat tertinggi di istana Kerajaan Perancis. Beliau mulai menetapkan hukum yurisdiksi khusus untuk kedepannya agar setiap kasus yang dihadapi warga setempat dapat diselesaikan secara adil, dan menghindarkan konflik peperangan agar tidak terulang kembali. Hukum yurisdiksi tersebut juga mencangkup persyaratan yang diajukan kepada para Lord yang masih tersisa di negerinya untuk tidak sewenang-wenang dalam merekrut pelayan. Setiap pelayan yang bekerja di sebuah keluarga harus diberi libur minimal satu hari dan gaji yang lebih layak.

Di Italia muncul nama Borelli. Ada enam generasi dari nama tersebut yang kesemuanya membawa sejarah yang berbeda. Ada dua marga Borella dan satu marga Borello. Terdapat tiga marga lainnya yang serupa yang juga memiliki historis keluarga berbeda. Pada akhir 1961 di buku telepon Ferrara ditemukan tiga orang bermarga Borelli. Dua orang berprofesi sebagai dokter dan seorang yang lain adalah jaksa. Ditemukan juga nama Borelli dan Borello di Spanyol direktori Madrid.

Nama Ruffelaert yang merupakan pengembangan dari nama Ruffino di abad 15 dan 16 juga muncul di Flanders. 

Nama-nama leluhur ini bisa menjadi acuan, seperti yang dikatakan Mr. J. Bijleveld, untuk mendapatkan sumber sejarah marga Boreel, yang dimana ibarat “pedang” mengerikan bagi siapa saja yang menganggapnya sebagai lelucon.  

Di Italia, sebutan “boia” atau “carnéfice” yang artinya adalah Sang Algojo, atau juga di Spanyol dengan julukan “verdúgo“, adalah sebuah penghinaan besar bagi keluarga ini. Semua serba diputarbalikkan hanya karena persoalan hak atas tanah leluhur keluarga. Tampaknya yang merusak makam, seperti perusakan makam Ruffelaert Bourell dengan cat biru, oleh suatu pihak agar menutupi surat kuasa yang tertulis dengan pernis di makam tersebut. Surat kuasa itu diberikan oleh Johan Boreel Jansz sebagai hak waris atas seluruh tanah periode 1621-1673. 

Makam Ruffelaert berada di sebuah crypt ruang bawah tanah St. Baafs Cathedral di Ghent. Terdapat banyak lukisan di dinding katedral, seperti misalnya lukisan “De Koningin van Saba bezoek Salomon“, karya Lucas de Heere. 
Ruffyne bekerja di Wurvik dan West-Yperen rentang tahun 1402-1414. Dia membeli anuitas saat tinggal di Ghent atas nama sepupunya, Thomas Bourell. Dia dihadapkan dengan singa dari Gruuthaus. Tapi juga diberi pinjaman dua lahan hutan yang kosong oleh Lord van Nevele. Masing-masing terletak di paroki Aersele dan Vinkt. 

Sedangkan “Kleynen-Saekele” atau Kleine-Sikkel merupakan pinjaman dari komunitas Oudenburg. Sejarah Oudenburg bermula sejak abad ke-10 dimana sebuah balai gereja kayu dibangun dan dimiliki oleh uskup Noyon-Tournai. Kemudian tahun 1054-1070 balai gereja kayu digantikan dengan gereja Santo Petrus yang dimana dalam pembangunannya dipertahankan pula sisa-sisa bangunan Romawi yang telah ada di peta selama berabad-abad sebelumnya. 

Sekitar tahun 1084, Arnoldus van Tiegem, uskup Soisson, datang ke Oudenburg dan mendirikan biara St. Peter. Gereja Santo Petrus yang berada di pusat Oudenburg dipindahkan ke biara tersebut. Pembangunan paroki baru tidak berlangsung lama. Berlokasi di Mariastraat. Gereja didekasikan untuk Bunda Maria. 

Oudenburg menjadi kota yang subur pada paruh abad ke-19. Tapi, bangunan tersebut sempat bobrok dan diputuskan untuk membangun gereja paroki yang baru yang dirancang oleh arsitek bernama Pierre Buyck pada tahun 1867. Gereja baru tersebut memiliki gaya Neo-Gothic : sebuah salib Latin dengan ilustrasi tanah, tulang punggung, bait suci, kayu runcing dan jendela mawar. Gereja ini berorientasi ke Barat dengan alasan sederhana bahwa portal tersebut ditujukan untuk Mariastraat dengan cara itu. 

Makam Ruffyne berada di scrypt ruang bawah tanah St. Baafs, tepat didepan altar St. Christopher & St. Geleyns. Tidak lama kemudian, istrinya (Péronne de Sénechal) juga dimakamkan disana. Menurut silsilah kuno ”s Gravenhage’ tahun 1471, seperti keluarga Boreel lainnya sampai abad ke-15, makam keluarga ini ditandai dengan batu bluestone. 

Pada tahun 1953, J. M. J. Buurman Boreel sempat mengunjungi ruang bawah tanah St. Baafs, dimana tidak ada penelitian arkeologi pada saat itu. Hanya saja ditemukan batu-batu bluestone dengan ukiran yang masih terbaca. Umumnya dikenal sebagai batu tulis. Beliau menerangkan bahwa makam keluarga Boreel yang ditandai dengan bluestone mengalami restorasi tahun 1958. Batu-batu ini malah ditempatkan di salah satu kapel di sisi kiri, di dinding, dan ada yang digosok dengan minyak. Setelah digosok minyak, cahaya dari batu membuat gambar lebih jernih : Pria di sebelah kiri, wanita di sebelah kanan. Membentuk kesatuan Tunggal, diapit oleh saudara kembar. Di bagian atas tengah, ada bentuk seperti jubah dipegang oleh dua malaikat mengambang sebagai pengesahan untuk semua keturunan mereka. Kemudian Raja Charles I dari Inggris memberi hak kepada Willem Boreel Jacobs untuk menambahkan simbol macan tutul emas (kini dijuluki dengan nama Indonesian National Weapon) sebagai perisainya. 

Sementara itu, keturunan-keturunan Boreel yang lain, yang menjadi Baronet Inggris, meninggal dengan masih membawa panji di tangannya untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya sampai Hari Kebangkitan Zaman Baru. Sebagian besar yang membawa panji-panji ini tidak meninggal karena perang. Melainkan karena usia yang sangat tua demi menjaga kedamaian dunia.

Pada bulan Mei 1418, Ruffyne (Ruffelaert) Bourell membeli dua anuitas atas nama anaknya, Joris, dan sepupunya Thomas Bourell. Dia belum membayar lebih banyak anuitas kepada anak-anaknya dan sepupu Thomas ini, tapi sejauh ini tidak ada tindakan yang ditemukan dimana nama ayah Thomas disebutkan. Pertanyaan lain harus diselidiki – jika mungkin – keputusan Péronne Bourell, yang akan menikah dengan Boudewijn van Steeland, dan dimana nisannya, yang pasangan ini telah dikuburkan di St. Baafs, belum ( atau tidak lebih) ditemukan sumber kebenaran pernikahannya. Goethals bagaimanapun  juga menyembunyikan kebenaran pernikahan ini yang seharusnya menyatakan bahwa Péronne Boreel adalah putri Ruffelaert Bourell dan Péronne de Sénechal. Sehingga akhirnya Goethals tidak terlalu dapat diandalkan karena banyak kesalahan dan kesimpulan yang salah.

Johan Boreel Willemsz., yang beberapa kali pernah di Ghent, Brugge dan Sluis, pada waktu itu mendapatkan beberapa anggota keluarga Steeland yang menyatakan sbb : 

“Boudewijn Baron van Vrendyck Sr. de Steeland et Peereboom, espousa Perrone Bourell fa. Ruffelaert et Péronne de Sénechal, quatre enttants eurent ensemble, Boudewyn, Marguerite et Jean et Jeanne. Gisent au monastère de St. Bavon aboly il mourut 18 Nov. 1520, elle 8 September 1512.” (Sumber : “De Nederlandse Leeuw”, edisi Maret 1930, kolom 72). 

Boudewijn Baron van Vrendyck Sr. de Steeland et Peereboom, pasangan dari Perrone Bourell yang merupakan anak dari pasangan Ruffelaert dan Péronne de Sénéchal, empat anak mati bersama, Boudewyn, Marguerite, Jean dan Jeanne. Kesemuanya dimakamkan di St. Baafs yang tanggal sebelumnya 18 November 1520 dihapus, diganti jadi 8 September 1512. 

Oleh sebab itu, Goethals tidak dapat diandalkan karena sudah didukung dari keterangan Johan Boreel Willemsz yang menjadi narasumber H. van Malsen juga.

(Bersambung…)

Advertisements

Resensi Buku : Ekofeminisme Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya

image

Judul : Ekofeminisme : Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya
Penulis (editor) : Dewi Candraningrum
Penerbit : Jalasutra
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : xvi + 268 hlm; 15, 5 cm x 23 cm
ISBN : 978-602-8252-89-8

Seri kajian ekofeminisme ini merupakan kerjasama Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana dengan Penerbit Jalasutra.

Buku ini saya beli di toko buku online Belbuk dengan harga buku 68,400. Saya suka ilustrasi gambar cover depan bukunya yang merupakan goresan kuas dari pelukis difabel penyandang autisme berusia 13 tahun, Ivan Ufuq Isfahan. Adapun tema buku ini adalah ekofeminisme, yaitu hubungan ekologi dengan feminisme. Bermuara pada hasil seminar, workshop untuk Kajian Feminisme Lintas Iman yang diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga bersama dengan berbagai perguruan tinggi lain.

Menurut kata pembuka yang ditulis oleh Irianti Ina R. Hunga (Ketua Pusat Penelitian dan Studi Gender, Universitas Kristen Satya Wacana), buku ini juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan di bawah payung program Interfaith Gender Equality and Ecological Justice yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana (PPSG – UKSW). Kegiatan itu juga sebagai tindak lanjut dari program Moving Beyond Faith : An Interfaith Workshop for Ecological Justice yang dilaksanakan oleh Institute of Women’s Studies, St. Scholastica’s College, Manila pada 21 – 25 Februari 2011, dimana PPSG – UKSW terlibat sebagai peserta yang masuk dalam jejaring program United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA).

Isi buku sebagian besar menguak fakta empiris dari dampak perubahan iklim dan krisis lingkungan terhadap perempuan sebagai pihak yang “terlupakan”. Pada pengantar disebutkan bahwa perempuan banyak ditinggalkan dalam proses pengambilan keputusan politik untuk dapat mengakses sumber-sumber kehidupannya. Budaya patriarki telah menggeser keberadaan perempuan dalam mengelola lingkungan dan berdampak pada semua aspek kehidupan perempuan dan masyarakat pada umumnya.

Diterangkan juga tentang perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman berbeda terkait dengan alam. Demikian juga perubahan iklim memiliki implikasi yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Namun ironisnya, dalam proses pengambilan keputusan terkait perubahan iklim dan sumberdaya justru tidak melibatkan perempuan.

Terdapat IV (empat) bagian bab yang disajikan di buku ini dimana pada masing-masing bagian terdiri dari beberapa moderator :
BAGIAN I – Tafsir Lintas Iman
BAGIAN II – Seni, Sastra & Kebudayaan
BAGIAN III – Pendidikan dan Pengajaran
BAGIAN IV – Ekonomi & Pembangunan

Dewi Candraningrum selaku editor berhasil mengumpulkan bagian penting dari isu-isu ekofeminisme yang memang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari publik. Terutama dalam bagian Usaha Perempuan Mengolah Warna Alami Berbasis Limbah Kayu : Kajian Budaya Batik Ramah Lingkungan oleh Hartati Soetjipto, A. Ignatius Kristijanto & Arianti Ina Restiani Hunga. Dari kesemua isi bagian buku ini seluruhnya bagus dengan penyampaian yang lugas, sarat teori feminisme dan hubungannya dengan lingkungan, sekaligus mengaitkannya dengan paham lintas agama.