Resensi Buku : Ekofeminisme Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya

image

Judul : Ekofeminisme : Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya
Penulis (editor) : Dewi Candraningrum
Penerbit : Jalasutra
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : xvi + 268 hlm; 15, 5 cm x 23 cm
ISBN : 978-602-8252-89-8

Seri kajian ekofeminisme ini merupakan kerjasama Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana dengan Penerbit Jalasutra.

Buku ini saya beli di toko buku online Belbuk dengan harga buku 68,400. Saya suka ilustrasi gambar cover depan bukunya yang merupakan goresan kuas dari pelukis difabel penyandang autisme berusia 13 tahun, Ivan Ufuq Isfahan. Adapun tema buku ini adalah ekofeminisme, yaitu hubungan ekologi dengan feminisme. Bermuara pada hasil seminar, workshop untuk Kajian Feminisme Lintas Iman yang diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga bersama dengan berbagai perguruan tinggi lain.

Menurut kata pembuka yang ditulis oleh Irianti Ina R. Hunga (Ketua Pusat Penelitian dan Studi Gender, Universitas Kristen Satya Wacana), buku ini juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan di bawah payung program Interfaith Gender Equality and Ecological Justice yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana (PPSG – UKSW). Kegiatan itu juga sebagai tindak lanjut dari program Moving Beyond Faith : An Interfaith Workshop for Ecological Justice yang dilaksanakan oleh Institute of Women’s Studies, St. Scholastica’s College, Manila pada 21 – 25 Februari 2011, dimana PPSG – UKSW terlibat sebagai peserta yang masuk dalam jejaring program United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA).

Isi buku sebagian besar menguak fakta empiris dari dampak perubahan iklim dan krisis lingkungan terhadap perempuan sebagai pihak yang “terlupakan”. Pada pengantar disebutkan bahwa perempuan banyak ditinggalkan dalam proses pengambilan keputusan politik untuk dapat mengakses sumber-sumber kehidupannya. Budaya patriarki telah menggeser keberadaan perempuan dalam mengelola lingkungan dan berdampak pada semua aspek kehidupan perempuan dan masyarakat pada umumnya.

Diterangkan juga tentang perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman berbeda terkait dengan alam. Demikian juga perubahan iklim memiliki implikasi yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Namun ironisnya, dalam proses pengambilan keputusan terkait perubahan iklim dan sumberdaya justru tidak melibatkan perempuan.

Terdapat IV (empat) bagian bab yang disajikan di buku ini dimana pada masing-masing bagian terdiri dari beberapa moderator :
BAGIAN I – Tafsir Lintas Iman
BAGIAN II – Seni, Sastra & Kebudayaan
BAGIAN III – Pendidikan dan Pengajaran
BAGIAN IV – Ekonomi & Pembangunan

Dewi Candraningrum selaku editor berhasil mengumpulkan bagian penting dari isu-isu ekofeminisme yang memang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari publik. Terutama dalam bagian Usaha Perempuan Mengolah Warna Alami Berbasis Limbah Kayu : Kajian Budaya Batik Ramah Lingkungan oleh Hartati Soetjipto, A. Ignatius Kristijanto & Arianti Ina Restiani Hunga. Dari kesemua isi bagian buku ini seluruhnya bagus dengan penyampaian yang lugas, sarat teori feminisme dan hubungannya dengan lingkungan, sekaligus mengaitkannya dengan paham lintas agama.

Asyiknya Browsingan Buku di Toko Buku Online

Satu minggu ini saya ngabisin banyak waktu untuk kursus bahasa serta penelitian isu gender & feminisme. Selasa kursus bahasa inggris, rabu bahasa belanda & kamis bahasa jerman. Jumat kosong saya manfaatkan untuk mencari informasi yang bersangkutan dengan gender dan feminisme. Biasanya paling banyak saya temukan konteks tersebut dalam buku-buku teks dan beberapa jurnal. Lalu saya coba cari buku yang berkaitan di toko-toko buku online.

Ternyata ada banyak sekali toko buku online yang menjual buku-buku berkualitas dari penulis ternama maupun pendatang baru. Saya browsing buku dengan tema gender dan feminisme. Memang tedapat beberapa situs TB online menjual buku-buku gender & feminisme, tetapi sayang sekali saya terlambat karena sudah banyak buku gender & feminisme yang sudah habis terjual. Namun beberapa buku masih tersedia dan saya tertarik untuk membacanya. Saya pun akhirnya memesan satu buku berjudul “Ekofeminisme: Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya” oleh Dewi Candraningrum.

image

Buku itu baru saya pesan kemarin dan sudah konfirmasi pembayaran. Sekarang saya tinggal tunggu buku sampai di tangan saya.

Gak berhenti disitu aja deh, saya mulai nabung sedikit demi sedikit untuk beli buku sebulan sekali di TB online. Sudah banyak buku yang nangkring di “troli belanja” untuk dibeli bulan berikutnya. Rasanya lebih asyik beli buku secara online daripada langsung ke tokonya karena saya suka malas sih.. Hahaha 😀

Ini TB online rekomendasi dari saya :

BAKUL BUKU

BELBUK

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Selamat browsingan! 😉

Les Miserables dan Sate Sapi di Ultah Anakku

Horay!! Sabila sudah besar sekarang umur 8 tahun! Pagi harinya kami merayakan ultah Sabila dengan tiup lilin dan foto-foto. Tapi tidak lama karena ultahnya hari Senin, dia harus berangkat sekolah. Tapi tidak berhenti disitu, kami mengajaknya makan di D’Kiosk Ciwalk. Dia makan sate kesukaanya, sate ayam Maulana Yusuf dan sempat mengeluh soal pesanannya, membandingkan rasa sate sapi yang saya pesan lebih enak. Dia bilang kalau nanti kesitu lagi mau pesan sate sapi saja.

Berikutnya kami nonton film bioskop “Les Miserables” di Premiere Ciwalk. Dia tidak tertidur selama film berlangsung. Tidak seperti ketika nonton The Hobbits bulan sebelumnya. Nampaknya dia menyukai film yang dibintangi Anne Hathaway itu.

Seusai nonton kami belanja di Yogya Mall, masih di Ciwalk. Saya beli facial foam Garnier. Hanya sebentar saja.

Kami beli kudapan lezat di Bread Talk Ciwalk, bondu dan beberapa DVD juga.

Sesampainya di rumah jam 8 malam kami mandi karena badan penuh keringat, membersihkan diri dari debu-debu kotor bekas jalan-jalan yang lama dan seru. Dia langsung mengerjakan PR-nya dan beranjak tidur.

8 tahun sudah Bintang Salsabila menjalani hidup. Saya masih merasa dia seorang bayi yang manis dan lucu 8 tahun lalu di Rumah Sakit Bunut Sukabumi. Saya berharap Sabila kelak bisa sukses dan lebih sejahtera dengan impiannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan Ibu selain anak pintar, soleh dan berbakti kepada orangtua. Semoga saya juga bisa lebih sabar menghadapi masalah. Jangan sampai membuat anak berpikiran buruk tentang orangtuanya.

Happy birthday, Bintang.. Ibu selalu menyayangimu..

image

image

image

image

INDONESIA KURANG KAPITALIS?

Beberapa saat lalu saya membaca topik menarik di sebuah buku milik saya di rumah dimana di dalamnya terdapat kumpulan wawancara dengan berbagai tokoh masyarakat, politik, agama, budaya, ekonomi dan sosial negara. Salah satu yang paling menarik perhatian saya yaitu ucapan tokoh filsafat Prof. Dr. Frans Magnis Soeseno. Pada sesi wawancarara beliau banyak membahas tema kapitalisme dan dampaknya terhadap bangsa Indonesia. Buku yg berjudul “Mampukah Indonesia Bangkit?” keluaran PT. Visi Gagas Komunika tersebut adalah kumpulan artikel dan wawancara dari tabloid Perspektif yang terbit di kala Indonesia sedang dilanda krisis moneter sekitar tahun 1997-2000.

Berikut kutipan Prof. Dr. Frans Magnis Soeseno mengenai kapitalisme di Indonesia :

Indonesia gagal bukan kesalahan kapitalisme, tetapi kalau dilihat justru kurang kapitalis. Kenapa? Sebab kapitalisme yang terjadi di Indonesia adalah kapitalisme kroni. Crony Capitalism jelas bukan Capitalism, kalau dia sudah menghapus hal inti dalam kapitalisme yaitu persaingan bebas. Kroni Kapitalism tidak berdasarkan pada kualitas ekonomi seperti efisiensi dan produktivitas yang menentukan mati-hidupnya sebuah perusahaan, tetapi pada soal kedekatannya dengan kekuasaan. Karena itu, mau tidak mau kriteria yang khas kapitalisme yaitu efisiensi digantikan oleh kriteria kedekatan dengan kekuasaan dan kemampuan untuk memperkaya penguasa dan konco-konconya. Sehingga ekonomi semakin lama semakin keropos, karena yang menjadi parameter bukan efisiensi tetapi eksploitasi. Jadi, Indonesia bukan negara kapitalis yang lazim. Dengan demikian, kita melihat kapitalisme di Indonesia sesungguhnya kurang kapitalis. Bentuk ekonomi yang paling buruk adalah ekonomi KKN seperti yang terjadi di negeri ini. Karena dia tidak memberi perlindungan sosial seperti yang dijamin oleh sosialisme, tetapi di lain pihak sistem ini juga menggerogoti keunggulan kapitalisme seperti efisiensi ekonomi, sehingga sistem ini menyerap unsur jelek dari keduanya. Dari sosialisme dia mengambil alih birokrasi, dan dari kapitalisme dia mengambil alih kekuasaan sosial. Sedangkan keunggulan dari kedua sistem yakni dari sosialisme berupa perlindungan sosial dan dari kapitalisme berupa efisiensi, keduanya tidak ia dapatkan.” (Tabloid Mingguan Berita PERSPEKTIF, Edisi No. 35/Tahun I, 24-30 juni 1999. Pewawancara : Edy Haryadi).