Awal Kecintaanku Dengan Piano

Bukanlah musik klasik yang jadi pendorongku bermain piano. Pertama kali aku suka suara dentingan piano adalah dari lagu Watermarkalbum “Enya- Watermark” yang merupakan kaset pribadi milik ibuku. Saat itu aku berusia 5 tahun.

image

Hampir setiap hari kusetel kaset itu dengan harapan aku bisa belajar main piano. Tetapi keluargaku tidak mampu membelikanku piano. Ketika itu rasanya bermain piano dan menjadi pianis hanya sebatas impian semu saja. Absurditas imajinasi seorang anak kecil belaka.
Selanjutnya memasuki Sekolah Dasar kelas 4 aku berkenalan dengan musik Yanni. Aku dibelikan kaset Yanni “In My Time” (1993) oleh ibuku.

image

Sensasi celtic dari Enya diperkaya dengan pengaruh musik world-nya Yanni. Kedua genre itu sangat memengaruhi gaya pianoku dalam membuat karya. Saat ayah membelikanku keyboard, aku mulai coba mencipta lagu sendiri. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk main keyboard di kamar. Sayangnya aku gak diajari cara fingering yang baik dan benar. Aku memainkan tuts-tuts piano tanpa memerdulikan penempatan jari di tuts yang benar. Padahal ada tehniknya. Aku belum mengetahuinya kala itu. Dan gaya ngasal itu juga yang bikin tehnik bermainku terbatas pada pola yang gitu-gitu saja. Sulit berkembang.
Memasuki masa SMP aku mulai kenal dengan musik klasik. Ada banyak sekali CD dari Belanda dikoleksi ibuku. Deretan komposer klasik seperti Beethoven, Tchaikovsky, Mozart, Chopin, Vivaldi, Bach, dll sukses mendapatkan perhatianku. Aku mendengarkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda dari warna Enya & Yanni. Musik klasik terkesan memiliki pola yang rumit, baku, sangat tak terduga, sulit ditebak. Namun diluar semua itu aku menyimpan rasa penasaran yang tinggi.

image
Ludwig van Beethoven
image
Frédéric François Chopin

Pengetahuanku tentang musik klasik belumlah luas. Aku hanya tahu sebatas musiknya saja. Belum bisa memainkannya.
Masa-masa kuliahku di salah satu sekolah tinggi musik di Bandung memberi banyak manfaat dalam hal pembacaan not balok (partitur) yang dimana aku memang masih awam dengan not balok. Kuliah tak selesai, aku tetap belajar partitur secara otodidak. Ditambah sekarang udah jaman internet, dengan mudah aku temukan banyak buku-buku penunjang sightreading. Aku harus lebih banyak belajar dan latihan untuk mengejar nilai bagus dalam ujian ABRSM (Associated Board of Royal Schools of Music) London, United Kingdom.

image

Sambil belajar aku juga akan coba buat karya. Sederhana saja. Aku akan merekamnya secara home recording dari laptop pribadi lengkap dengan software-nya. Mungkin nanti kalau Willem udah gedean bisa diajak ke studio rekaman profesional. Tapi, aku juga belum tahu gimana proses rekaman solo piano yang bagus. Apakah jika aku ingin memasukkan suara orchestra harus pakai jasa orkestra asli, bukan komputer/MIDI? Hmm, nampaknya aku masih harus banyak cari informasi lagi.