Museum Geologi Bandung

Hari Sabtu, tanggal 8 Agustus 2015, saya & si bontot Willem mengunjungi Museum Geologi Bandung. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 10:00 WIB. Naik kendaraan umum (baca : angkot) jurusan Cicaheum – Ledeng. Lokasi museum lumayan dekat dari daerah tempat tinggal kami di Cicadas. Hanya satu kali saja naik angkot dengan durasi perjalanan sekitar 8-10 menit langsung sampai di lokasi. Biaya ongkos pun terbilang murah, Rp. 3.000,-.

Turun dari angkot di jalan Diponegoro tampaklah museum itu tepat di seberang sana. Saat itu ada beberapa bis pariwisata dari sebuah sekolah yang nampaknya juga sedang berwisata ke Museum Geologi Bandung.

Saya segera menyebrang sambil gendong Willem. Berhubung ini kali pertama berkunjung, saya kebingungan dimana gerbang masuknya. Syukurlah banyak sekali pedagang disana. Saya bertanya ke salah satu pedagang minuman dingin bertampang necis dengan sedikit tato di lengannya : ‘Punten, pak. Kalo mau masuk ke museum lewat mana ya?’, tanya saya dengan merasa sedikit bodoh. ‘Disitu, neng (sambil nunjuk ke gerbang paling ujung), masuk di gerbang yang terbuka paling pertama di ujung.’ Saya perhatikan dengan teliti ternyata memang ada beberapa kendaraan mobil & motor masuk melalui gerbang itu, juga beberapa remaja.

‘Iya, pak. Nuhun,’ jawab saya sambil senyum ramah kepada pedagang bertato yang ternyata juga ramah dan baik. Kemudian, saya bergegas menuju arah pintu gerbang pertama. Masuk gerbang dihadapkan dengan seorang satpam. Tetapi, nampaknya satpam itu cuek bebek saja. Ya sudah, saya masuk saja.

Willem terlihat riang dan tak mau digendong. Sibuk lari-lari di lapangan parkir museum yang luas. Beberapa turis asing ada yang menghampiri Willem dan mengajaknya main. Ketika saya berseru kepada anak saya, ‘Willem, pelan-pelan larinya nanti jatuh,’ salah satu turis perempuan agak bengong, ‘Willem? Belanda?,’ Wah rupanya turis itu hendak menebak apakah Willem dari Belanda atau bukan, karena ketika saya menyebut nama Willem logat londo saya terdengar jelas. Hahaha.

‘Ja. His name is taken from my ancestor’s name, Willem Boreel.’ Jawab saya mantap.

‘Boreel! Ja. Saya juga dari Belanda. Saya tahu Boreel.’ Kata si turis perempuan berambut pendek pirang sambil angguk-angguk kepala khas orang Belanda. Ternyata dia lancar berbahasa Indonesia. Dia datang mengunjungi museum bersama keluarganya dan menceritakan bahwa kakeknya juga adalah seorang peneliti Belanda yang mengadakan riset di museum ini. Dia & keluarganya sangat antusias sekali ketika menceritakan kenangan bersama kakek mereka itu yang saya lupa namanya. Maklum, gangguan pendengaran saya semakin parah dan alat bantu yang saya pakai saat itu sedang lemah batreainya hampir habis. Beruntung saya terbiasa baca gerak bibir meski tidak terlalu bisa..

Kami pun berpisah di tempat pembelian tiket masuk. Seorang perempuan paruh baya berjilbab menyambut dengan senyum, ‘Untuk berapa orang?’, katanya.

‘Kalau bayi masuk hitungan gak?’, tanya saya sambil menunjuk Willem yang sedang sibuk menyentuh patung kera kecil di dekat pintu ruang pembelian tiket.

‘Engga, Bu. Gak masuk hitungan. Harga tiket Rp. 3.000,-‘ Jawabnya.

Wah, murah juga ya….. Pikir saya. Langsung saja saya rogoh kocek dari dompet di tas dan ambil tiket masuk.

Setelah sampai di gerbang pintu masuk museum, dua orang petugas jaga perempuan juga menyambut kami berdua dengan sopan dan ramah. Tiket milik saya ditandai. Kami pun masuk ke dalam museum.

image

Kesan pertama masuk museum, saya takjub melihat kerangka fosil Mammoth purba yang diletakkan tepat di tengah ruangan pintu masuk. Besar sekali!

image

Willem tak seperti biasanya, yang rewel tak mau diam, terbengong-bengong sendiri. Dia diam saja, tapi terlihat dari ekspresi mukanya dia juga sama-sama takjub. Apalagi di sebelah kerangka fosil mammoth purba itu ada sebuah layar besar yang menampilkan tayangan dokumentari sejarah binatang purbakala. Alhasil, Willem makin betah.

Kami berdua telusuri ruang museum satu persatu. Pertama, kami masuk ruangan museum ‘Sejarah Kehidupan (History of Life)’. Kami dihadapkan dengan cerita-cerita manusia purba & penemuan fosillnya, dinosaurus & binatang purbakala lainnya, serta yang paling menarik minat saya mengunjungi museum ini, Evolusi Manusia.

image

image

image

Hampir satu jam lamanya saya & Willem di ruangan ini. Saya luar biasa betah memerhatikan benda-benda purbakala. Tidak ada bosannya bolak-balik di satu ruangan demi membaca sejarah peradaban dunia dengan seksama. Sensasinya jauh berbeda dengan momen ‘hanya-tau-dari-google’. Berada di antara benda-benda purbakala yang umurnya jutaan tahun ini benar-benar bikin saya lupa waktu.

Akhirnya mau tak mau saya masih harus melihat-lihat ke ruangan lain. Sampailah saya & Willem di ruangan Geologi Indonesia. Di ruangan ini terdapat hipotesis terjadinya bumi & alam semesta. Juga penjelasan tentang Evolusi Manusia menurut Charles Darwin, sang pelopor Teori Evolusi. Juga terdapat penjelasan keadaan geologi Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya.

image

image

image

image

image

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 13:00. Perut saya pun keroncongan tanda lapar karena belum makan. Willem juga harus segera makan siang. Akhirnya, saya inisiatif untuk pulang saja. Lagipula di hari Sabtu museum ini buka sampai jam 2 siang. Padahal kami belum sempat mengunjungi ruangan museum di lantai atas. Tak apalah. Lain waktu lagi saja.

Kami pun pulang naik angkot. Selama perjalanan pulang hingga saat ini juga saya masih takjub dan ingin segera mengunjunginya lagi. Sangat berkesan dan luar biasa sekali…

image